Senin, 03 November 2008

Kekerasan di Sekolah, Yogya Paling Tinggi

Dari tiga kota pelaksanaan survei mengenai gambaran bullying di sekolah, Yogyakarta mencatat angka tertinggi dibanding Jakarta dan Surabaya. Ditemukan kasus bullying di 70,65 persen SMP dan SMU di Yogyakarta. Psikolog Universitas Indonesia (UI) Ratna Juwita, yang melakukan penelitian ini, mengatakan, tingginya kasus bullying di Yogyakarta belum diketahui sebabnya.

"Belum bisa dijelaskan mengapa. Padahal kalau dipikir-pikir itua dalah wilayah Jawa Tengah yang terkenal halus," ujar Ratna dalam konferensi pers mengenai upaya penanganan bullying di Jakarta, Sabtu (17/5). Menurut Ratna, dirinya belum dapat memastikan betul apa yang menjadi penyebab tingginya persentase bullying di Yogyakarta. Anehnya, Ratna juga mengatakan bahwa di Yogyakarta juga ditemukan sekolah yang tingkat bullying-nya terendah, terutama di daerah pinggiran.

"Yang rendah ini di sekolahnya terdapat hubungan antara guru dan siswa yang sangat baik. Sekolahnya kecil dan nyaman, dalam arti hijau, anak-anak bebas main-main. Sekolah yang sangat biasa," ujar Ratna. Maraknya aksi bullying atau tindakan yang membuat seseorang merasa teraniaya di sekolah, baik oleh sesama siswa, alumni, atau bahkan guru harus disikapi secara serius. Masalahnya, menurut Ketua Yayasan Sejiwa yang aktif memerangi tindak bullying Diena Haryana, ini tidak hanya dapat berakibat langsung pada anak, namun berakibat jangka panjang terhadap psikologis anak.

Kasus-kasus ini jarang menguak ke permukaan karena guru, orangtua, bahkan siswa belum memiliki kesadaran tentang bullying. Bullying merupakan istilah yang belum cukup dikenal masyarakat luas di Indonesia meski perilakunya eksis di dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan di dalam institusi pendidikan.

Menurut Andrew Mellor dari Antibullying Network University of Edinburgh, bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain, baik berupa verbal, fisik, maupun mental dan orang tersebut takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi.

www.kompas.com

.......selengkapnya »»

Bullying di Sekolah: Jogja tertinggi!!!

Masih cukup ingat kita dengan keroyokan sekelompok remaja putri di Pati bulan lalu. Heboh, media pun berlomba memberitakan. Baru sadar masyarakat kita, jika hal semacam itu telah jadi tren di ‘sebagian’ remaja kita. Tak berapa lama kemudian, video-video serupa pun bermunculan, sama, kasus mengenai kekerasan yang dilakukan sekelompok remaja terhadap seorang remaja lainnya, barangkali yang semakin menarik kali ini adalah, karena pelakunya remaja putri.

Belum lama dari berita-berita itu, sebulan sebelumnya, psikolog UI, Ratna Juwita, baru saja menyosialisasikan hasil surveynya tentang praktik bullying di lingkungan sekolah di Yogyakarta. Hasilnya cukup mencengangkan bagi saya, entah apa karena Jogja terkenal sebagai kota pelajar atau bagaimana? Rupanya ditemukan kasus bullying di 70,65 % SMP dan SMA di Jogja. Dan ini lebih tinggi dari tingkat bulliying (di sekolah) di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Bullying sendiri adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Dan peristiwanya, sangat mungkin terjadi berulang. Bullying terbagi menjadi tiga, pertama, fisik, seperti memukul, menampar, dan memalak atau meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya. Kedua, verbal, seperti memaki, menggosip, dan mengejek. Ketiga, psikologis, seperti mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan, dan mendiskriminasikan.

Bullying tidaklah sama dengan occasional conflict atau pertengkaran biasa yang umum terjadi pada anak. Konflik pada anak adalah normal dan membuat anak belajar cara bernegosiasi dan bersepakat satu sama lain. Bullying merujuk pada tindakan yang bertujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Sang korban biasanya anak yang lebih lemah dibandingkan sang pelaku.

Berbicara mengenai dampak, para korban bullying, mungkin sekali mengalami trauma, depresi, yang bisa mengakibatkan gangguan mental di masa yang akan datang. Anak yang kerap menjadi korban bullying pun akan tumbuh menjadi orang yang pencemas. Dampak langsung dari bullying pada anak antara lain sulit konsentrasi, mudah gugup dan takut, hingga tak bisa bicara.

Pada para pelakunya, bullying juga mendatangkan kerugian, karena mungkin sekali para pelaku cenderung memiliki kepribadian antisosial, kriminal dan suka sewenang-wenang saat mereka dewasa. Para pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak melakukan bullying.

Dari berbagai penelitian, ternyata bullying berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa.



sighuraba.wordpress.com

.......selengkapnya »»

Hilangnya Etika Mahasiswa

Ada beberapa kejadian di kampus ITB yang membuat saya mengelus dada. Kejadian tersebut memang tidak saya alami akan tetapi dialami oleh kolega saya, sesama dosen. Kejadian pertama adalah sopan santun mahasiswa dalam menggunakan lift di sebuah departemen. (Tidak saya sebutkan detailnya. Ada di milis dosen ITB yang mungkin kurang baik kalau saya teruskan ke milis ini.) Seorang mahasiswa ditegur oleh dosen. Eh, bukannya malu atau minta maaf malah dia nantaingin. Hah! (Kalau mendengar ceritanya, saya ikut kesal! Maunya saya cari mahasiswa tersebut dan suruh minta maaf kepada dosen ybs.)

Kejadian kedua terjadi di dekat SBM (School of Business and Management). Seorang dosen parkir mobil dan ketika kembali akan menggunakan mobilnya ternyata di belakangnya ada mobil lain yang diparkir menghalangi mobilnya. Mobil tersebut terkunci dan direm. Akhirnya dosen ini (dan seorang lagi) terpaksa menunggu mahasiswa itu kembali. Ketika kembali, mahasiswa tersebut - lagi-lagi - tidak merasa bersalah dan bahkan mengatakan hal tersebut sudah biasa. Hah!@! WTF!!! Mana rasa sensitif terhadap orang lain? Untung dosen yang bersangkutan bisa menahan diri. (Di milis dia menyatakan kekesalannya dan sudah siap untuk berantem dengan mahasiswa tersebut. He believed he can take them - they were two of them! You know, I would do the same if I were him.)

SBM ini memang menimbulkan masalah di ITB, khususnya adalah masalah perbedaan kultur. Untuk masuk ke SBM memang dibutuhkan uang sedikitnya Rp 60 juta. Jadi banyak mahasiswa dan dosen yang melihat bahwa mahasiswa SBM ini borjuis dan kurang bisa berintegrasi dengan lingkungan ITB lainnya. (Untuk diketahui saja, mahasiswa ITB masih banyak yang berasal dari keluarga miskin. Dosennya juga masih banyak yang pas-pasan.) Saya sendiri belum pernah mengalami masalah dengan SBM. Mudah-mudahan tidak pernah. Saya banyak berharap SBM bisa memberikan warna yang positif terhadap ITB (dari sisi bisnis sense), tapi kalau seperti ini kejadiannya. Wah … mungkin sebaiknya SBM dipisahkan dari ITB saja?

Saat ini memang saya belum mendengar tanggapan dari mahasiswa maupun dosen SBM mengenai kasus-kasus yang terkait dengan “kultur” SBM ini. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya.

Kembali ke masalah etika mahasiswa, sayang sekali nampaknya etika baik sudah luntur atau hilang. Untuk para mahasiswaku: prove me wrong! Buktikan bahwa saya salah. Buktikan bahwa kalian memang masih bisa menjadi tumpuan harapan kami.

rahard.wordpress.com

.......selengkapnya »»

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP